Historia The Series Masuk Edisi ke-14, Salman Fariz Bahas Kearifan Budaya Lokal

Historia The Series Masuk Edisi ke-14, Salman Fariz Bahas Kearifan Budaya Lokal

Pamulang, Tangsel, SakoIndonesia.asia – Empat belas kali digelar, satu program diskusi ini konsisten mempertemukan warga Tangerang Selatan dengan tokoh publik untuk membahas isu sejarah, sosial, dan budaya yang masih relevan hari ini. Giliran tema “Merangkul Perbedaan, Merajut Kebersamaan dalam Kearifan Budaya Lokal” yang diangkat dalam Historia The Series Part 14, Minggu (9/8/2036).

‎Diskusi digagas Yayasan Historia Tangsel dan berlangsung di Tambi mulai pukul 15.30 WIB hingga selesai. Sejak awal digulirkan, seri ini punya pola yang sama: mengangkat isu sosial-budaya lewat perspektif narasumber yang punya keterkaitan langsung dengan tema yang dibahas dan edisi ke-14 tidak terkecuali.

‎Kali ini Historia The Series menghadirkan H.M Salman Fariz, SE., Anggota DPRD Kota Tangerang Selatan dari Komisi IV Fraksi Partai Golkar, sebagai narasumber utama. Pemilihannya bukan tanpa alasan, Komisi IV adalah alat kelengkapan DPRD yang membidangi isu kesejahteraan sosial dan kebudayaan, sehingga pandangannya soal kearifan lokal punya bobot dari sisi kebijakan, bukan sekadar opini pribadi.

‎Dalam pemaparannya, Salman Fariz menyoroti pentingnya merawat keberagaman melalui kearifan budaya lokal sebagai perekat kebersamaan di tengah masyarakat.

‎”Perbedaan latar belakang suku, agama, dan budaya bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang perlu dirangkul bersama untuk membangun harmoni sosial,” ujarnya.

‎Ia juga mengajak masyarakat untuk terus melestarikan nilai-nilai lokal sebagai fondasi menjaga persatuan, khususnya di wilayah Tangerang Selatan yang majemuk.

‎Acara sore itu diikuti peserta dari berbagai kalangan yang antusias menyimak jalannya diskusi hingga usai, gambaran yang menurut penyelenggara mencerminkan animo publik terhadap format diskusi semacam ini, sekaligus alasan mengapa Historia The Series bisa bertahan hingga belasan edisi.

Format serial yang stabil, tema yang berganti tapi tetap membumi, dan narasumber yang relevan dengan isu yang diangkat, menjadi ciri khas yang membedakan program ini dari diskusi publik pada umumnya.

‎Selain Salman Fariz, hadir pula DR. Fachrudin Zuhri, tokoh masyarakat yang juga mantan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sekaligus anggota Tim 9 perumus lambang daerah Tangerang Selatan. Kehadirannya melengkapi diskusi dengan perspektif dari sosok yang punya rekam jejak langsung dalam merumuskan identitas kedaerahan Tangsel.

Turut hadir juga Ilham Suyatno, Kepala Bidang Pemuda Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Tangerang Selatan, bersama sejumlah aktivis pemuda lainnya.

‎Di sela acara, Ketua Umum Yayasan Historia Tangsel, Agam Pamungkas Lubah, menegaskan pentingnya pemerintah lebih peka terhadap persoalan sejarah dan budaya daerah.

Ia juga mengingatkan agar peran sejarawan dan budayawan tidak dipukul rata, sebab keduanya memiliki fokus kerja yang berbeda meski sama-sama berkontribusi merawat identitas lokal.

‎Penyelenggara berharap melalui seri ke-14 ini, kesadaran kolektif akan pentingnya toleransi dan kebersamaan lewat pendekatan kearifan lokal bisa terus tumbuh di tengah masyarakat.

‎Dengan rekam jejak 14 edisi dan keterlibatan berbagai tokoh lintas latar belakang, Historia The Series tampaknya akan terus berlanjut sebagai ruang diskusi rutin bagi warga Tangerang Selatan. Publik yang ingin mengikuti edisi berikutnya atau terlibat sebagai peserta dapat menghubungi panitia penyelenggara melalui Yayasan Historia Tangsel.(red)

Penulis: tim redaksi Editor: Lingga

Bagikan Berita Ini

Dukung jurnalisme yang akurat, independen, dan terpercaya bersama Sakaindonesia.asia.

Redaksi Sakoindonesia.asia
Redaksi Sakoindonesia.asia
Articles: 27

Artikel Populer