Ngopi Bareng Tambi Historia, Mamat Paparkan “Luar Biasa” untuk Pamulang
Tangerang Selatan, SakoIndonesia.asia – Camat Pamulang Mamat memaparkan konsep kepemimpinan “Luar Biasa” sebagai arah pengelolaan Kecamatan Pamulang dalam forum Ngopi Bareng di Tambi Historia, Jumat (28/8/2026). Gagasan tersebut diarahkan pada peningkatan pelayanan publik dan pembangunan di wilayah Pamulang.
Pertemuan yang dihadiri Mamat bersama Sekretaris Kecamatan Pamulang Haji Ade Heri itu berlangsung dalam suasana santai, tetapi membahas arah kepemimpinan dan rencana kerja pemerintahan kecamatan ke depan.
Konsep “Luar Biasa” disampaikan Mamat sebagai landasan visi dalam mengelola Kecamatan Pamulang. Namun, tantangan berikutnya adalah bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi program yang konkret dan dapat dirasakan masyarakat.
Forum Ngopi Bareng sekaligus menjadi ruang komunikasi antara pemerintah kecamatan dengan masyarakat dan para tamu undangan. Format dialog informal tersebut membuka kesempatan untuk membicarakan arah pemerintahan secara lebih terbuka.
Tuan Rumah Tambi Historia, Agam Pamungkas, menilai forum semacam itu penting untuk mengetahui secara langsung gagasan dan arah kepemimpinan Kecamatan Pamulang.
“Bagi kami di Tambi Historia, pertemuan seperti Ngopi Bareng ini bukan sekadar silaturahmi dalam suasana santai. Ini menjadi ruang untuk mendengar langsung gagasan dan arah kepemimpinan Kecamatan Pamulang, terutama bagaimana konsep ‘Luar Biasa’ itu nantinya diterjemahkan ke dalam pelayanan dan program yang benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Agam.
Menurut dia, karakter masyarakat Pamulang yang beragam membuat konsep kepemimpinan perlu dibarengi dengan ruang komunikasi, kolaborasi, dan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan.
Agam mengatakan Tambi Historia ingin terus menjadi ruang pertemuan yang mempertemukan gagasan, sejarah, budaya, masyarakat, dan pemerintah. Ia berharap dialog yang berlangsung tidak berhenti sebagai forum pertemuan, tetapi berkembang menjadi gagasan dan kerja nyata bagi Pamulang dan Tangerang Selatan.
Pandangan serupa disampaikan Rahmat Hidayat, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Historia Tangsel. Ia menilai tantangan utama konsep “Luar Biasa” terletak pada penerapannya, bukan sekadar pada istilah yang digunakan.
“Yang menarik dari pemaparan Camat Pamulang adalah bagaimana semangat ‘Luar Biasa’ tidak berhenti sebagai sebuah slogan kepemimpinan. Tantangannya justru bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi program yang terukur, pelayanan yang semakin dekat dengan masyarakat, serta pembangunan yang menjawab kebutuhan wilayah,” ujar Rahmat.
Rahmat melihat Pamulang memiliki masyarakat yang dinamis dengan potensi di berbagai bidang, termasuk sosial, seni, budaya, pendidikan, dan ekonomi. Karena itu, masyarakat menurutnya perlu ditempatkan bukan hanya sebagai penerima pelayanan, tetapi juga sebagai bagian dari kekuatan pembangunan.
Ia berharap komunikasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas, dan berbagai unsur lainnya terus dibangun. Menurut Rahmat, konsistensi forum dialog dapat membuka ruang bagi gagasan masyarakat untuk menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan Kecamatan Pamulang.
Bagi Historia Tangsel, kata Rahmat, ukuran penting dari sebuah gagasan kepemimpinan adalah dampak konkretnya bagi masyarakat.
“Bagi Historia Tangsel, hal yang paling penting adalah bagaimana setiap gagasan kepemimpinan akhirnya meninggalkan sesuatu yang konkret bagi masyarakat dan menjadi bagian dari perjalanan sejarah perkembangan Pamulang,” katanya.
Dengan demikian, konsep “Luar Biasa” yang dipaparkan dalam forum tersebut selanjutnya akan diuji melalui penerapannya dalam program, pelayanan publik, dan pembangunan Kecamatan Pamulang.(red)
Bagikan Berita Ini
Dukung jurnalisme yang akurat, independen, dan terpercaya bersama Sakaindonesia.asia.













